Nama Prof. Dr. H. Yus Rusyana dikenal luas sebagai budayawan, sastrawan, sekaligus akademisi bahasa yang menempatkan sastra bukan semata sebagai kerja estetik, melainkan sebagai laku kebudayaan dan etika publik. Lahir di Pameungpeuk, Garut Selatan, pada 24 Maret 1938, Yus Rusyana tumbuh dari tradisi pengajaran dan pengabdian intelektual yang panjang. Ia mencipta dan menerbitkan berbagai karya sastra seperti puisi, cerpen, guguritan, hingga naskah drama, baik dalam Bahasa Indonesia maupun terutama dalam Bahasa Sunda, dengan perhatian kuat pada persoalan sosial, spiritualitas, dan tanggung jawab kebudayaan.
Perjalanan intelektual Yus Rusyana bermula dari pendidikan keguruan. Kekagumannya pada sosok guru sejak Sekolah Rakyat Negeri Pameungpeuk (1946–1952) menuntunnya menempuh pendidikan di Sekolah Guru B Negeri 1 Garut dan Sekolah Guru A Negeri 1 Bandung. Ia kemudian melanjutkan studi di Jurusan Bahasa dan Sastra Sunda FKSS IKIP Bandung (1958–1964). Di masa inilah minatnya pada sastra berkembang serius. Puisi-puisinya mulai dimuat di media, sementara aktivitas seni lain, khususnya teater, ia kembangkan melalui pendirian Liga Drama dengan pementasan naskah-naskah karyanya.
Di tengah kesibukan kesenian, Yus Rusyana tetap menapaki jalur akademik secara disiplin. Ia mengikuti program Post Graduate Training in the Study of Indonesian Language and Philology di Universitas Leiden (1971–1973), lalu meraih gelar doktor linguistik dari Universitas Indonesia pada 1975 dengan kepakaran di bidang morfologi bahasa. Kepakaran ini membawanya mengajar di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Pendidikan Indonesia, tempat ia pernah menjabat dekan FKSS, serta menjadi dosen pascasarjana di Universitas Suryakancana, Cianjur.
Namun, yang membuat Yus Rusyana tetap relevan hingga kini adalah karya sastranya yang terus berdialog dengan realitas sosial. Dalam puisi “Pilar Budaya Cianjur”, misalnya, ia merangkum nilai-nilai lokal—ngaos, mamaos, maenpo—sebagai fondasi peradaban. Puisi itu tidak berbicara dengan bahasa nostalgia, melainkan dengan nada normatif dan pedagogis, seolah menegaskan bahwa kebudayaan adalah disiplin hidup: bekerja, beriman, bersabilulungan, dan waspada terhadap kekuasaan.
Nada yang lebih keras muncul dalam puisi “Nagara”. Di sana, Yus Rusyana tidak menyamarkan kritiknya. Negara digambarkan dirusak oleh pejabat dan pengusaha, lalu diserahkan kembali kepada doa. Kritik sosial dan religiositas bertemu tanpa jarak. Puisi ini memperlihatkan keberanian moral seorang penyair yang tidak menjadikan bahasa sebagai tempat berlindung, melainkan sebagai alat pertanggungjawaban.
Sementara puisi-puisi pupujian seperti “Suhud dina Lampah Hade” dan “Puisi Pupujian” memperlihatkan sisi lain Yus Rusyana: kesalehan yang membumi. Iman diterjemahkan ke dalam kerja, kesabaran, dan solidaritas sosial. Tidak ada glorifikasi spiritual yang kosong; yang ada adalah ajakan konsisten untuk milampah hade, berbuat baik, dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan ini sejalan dengan filosofi hidup yang kerap ia sampaikan kepada mahasiswa: Selamat, Bermanfaat, dan Nikmat. Selamat berarti mawas diri, bermanfaat berarti memberi kontribusi, dan nikmat berarti tidak tercerabut dari kesadaran ketuhanan. Bagi Yus Rusyana, penelitian dan penciptaan sastra bukan medan ketegangan, melainkan ruang kegembiraan intelektual yang harus dinikmati dengan penuh tanggung jawab.
Puluhan buku akademik dan sastra yang ditulisnya mulai dari kajian linguistik, ensiklopedi sastra, hingga cerpen dan puisi menegaskan posisi Prof. Dr. H. Yus Rusyana sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Penghargaan Sastra Rancage 1989 untuk Jajaten Ninggang Papasten hanyalah satu penanda, bukan puncak perjalanan. Yang lebih penting adalah pengaruh jangka panjangnya: bagaimana sastra Sunda tetap hidup sebagai sistem pengetahuan, etika sosial, dan cermin nurani publik.
Di tengah krisis kepercayaan, bencana ekologis, dan kegaduhan politik, puisi-puisi Yus Rusyana terasa kembali aktual. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi menghadirkan kompas nilai. Bahasa Sunda, di tangannya, menjelma bahasa kewargaan yang menegur tanpa kehilangan adab, mengkritik tanpa memutus doa. Dalam zaman yang resah, suara seperti ini menjadi pengingat: bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan tanggung jawab yang harus terus dirawat.
PILAR BUDAYA CIANJUR
Ku: Yus Rusyana
Getol ngaos jeung mamaos,
teu poho kana maenpo,
ger tatanen ambeh panen,
subur mamur sa-Cianjur.
Tanghinas kana ibadah,
giat amal gawe hade,
kuat iman yakin tigin,
someah bari waspada.
Sabilulungan di lembur,
ngolah lahan keur usaha,
ulah diranjah ku batur,
si jago kudu disada.
Gajahlangu, Salasa, 4 April 2017.
Nagara
Nagara
bangsa
lemah cai,
rahayat,
diruksak
ku para pejabat jahat
ku para pengusaha bangsat.
Ya Allah
mugi Gusti
maparin pitulung
sareng panangtayungan
ka nagara,
bangsa,
lemah cai
sareng
rahayat
INDONESIA
Puisi Pupujian
Solawat sinareng salam,
haturan jungjunan alam,
nya Muhammad Rosulullah,
nabi anu panganggeusan.
Anjeun teh estu utusan,
ka sagemblengna manusa,
ngembarkeun warta gumbira,
pepeling kasalametan.
Sangkan manusa ariman,
ka Alloh miwah Rasul-Na,
teu aya deui Pangeran,
anging Alloh mung nyalira.
Salam haturan salira,
anu ngagem ahlak mulya,
madeg dina jalan lempeng,
bebeneran anu cengeng.
Abdi umat ahir jaman,
tumut nuturkeun piwulang,
mugi paparin safaat,
dina dintenan kiamat.
Gajahlangu,
Saptu, 12 Rabiul Awal 1444,
8 Oktober 2022.
PANTUN GELONDONG/Walét Awang
Hujan lebat banjir pun hébat,
longsor merobohkan jembatan.
Watak jahat laku hianat,
jaga pamor dengan jabatan.
Batang kayu gelondongan,
hanyut segala digilas.
Datang dengan kebohongan,
seragam putih penuh belas.
Kelapa sawit akar serabut,
tidak bisa menyerap air.
Banyak duit hasil berebut,
tak peduli tak banyak pikir.
Lumpur menggenang di pekarangan,
ratusan rumah hilang musnah.
Syukur mengenang persaudaraan,
bantuan pun datang berlimpah.
Banjir turun dari gunung,
membawa lumpur dan sampah.
Walau tak sempat berkunjung,
kami berdo'a kepada Allah.
Gajahlangu, 19 Désémber 2025.
Suhud dina Lampah Hade
Yus Rusyana
(Puisi Pupujian)
Kukuh pengkuh ngagem iman,
teu aya deui Pangeran,
Allah nu diibadahan,
mo aya nu nyasamian.
Ger giat milampah hade,
poma ulah sok leleda,
masing suhud barang gawe,
garapan mah beda-beda.
Bari akur reujeung batur,
toweksa silih tulungan,
bari bener teu ngalantur,
jembar sabar babarengan.
Mun meunang halang harungan,
teuneung ludeung henteu ringrang,
da kapan eta ujian,
wayahna kudu disorang.
Muga meunang kabagjaan,
najan karasana beurat,
muga pareng tinekanan,
salamet dunya aherat.
Gajahlangu, Ahad, 12 Juni 2022